2. AQIDAH ISLAMIYAH PONDASI SETIAP MUSLIM DALAM BERAMAL
بسم الله الرحمن الرحيم
Allah swt adalah Ar Rahim. Diantara rahmat yang telah Ia anugerahkan kepada para
hamba-Nya adalah Ia menghidupkan jiwa-jiwa mereka dengan wahyu-Nya dan
meneranginya dengan caha-Nya. (Lihat : QS. Asy Syura : 52)
Allah telah mengeluarkan
manusia dengan wahyu-Nya ini dari kehidupan yang penuh dengan kegelapan kepada
kehidupan yang penuh dengan cahaya. Dari kegelapan kekufuruan, kesyirikan dan
kebodohan, menuju cahaya Islam dan kebenaran. (Lihat : QS. Ibrahim : 5)
Mengeluarkan manusia dari
kegelapan kepada cahaya tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan cara
memberikan pelajaran kepada mereka tentang ajaran-ajaran Rabnya, mensucikan
jiwa mereka dengan cara mengenalkan tentang dzat-Nya, nama-nama dan
sifat-sifat-Nya, mengenalkan kepada mereka tentang malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya serta memahamkan kepada mereka hal-hal yang
dapat memberi manfaat dan yang dapat memberi mudharat, juga mengenalkan kepada
mereka jalan untuk mendekatkan diri dan meraih cinta-Nya. (Lihat : QS. Al
Jum’ah : 2)
Oleh karena itu Allah swt
mengutus para rasul-Nya sebagai nikmat yang sangat agung kepada para hamba-Nya
untuk merealisasikan tugas-tugas tersebut di atas. (Lihat : QS. Ali Imran : 164
dan Al Hujurat : 17)
Apabila kita melakukan
taammul (kajian) terhadap kisah para rasul yang diceritakan dalam Al Qur’an
beserta kejadian yang terjadi antara mereka dan para kaumnya, kita akan
mendapati bahwa mereka sepakat untuk menjalankan satu dakwah, yaitu menyeru
umat untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan
sesuatu pun serta menyeru umat untuk menjauhi syirik dan wasailnya, meskipun
syari’at mereka berbeda-beda. (Lihat : QS. Al Anbiya : 25 dan An Nahl
: 36)
DR. Nashir bin Abdul Karim
Al ‘Aql mengatakan : “Ini merupakan tujuan utama dan pertama yang dapat
menciptakan maslahat bagi umat manusia baik urusan dunia maupun dinnya”.
Tapi perlu dicatat bahwa
ini bukan berarti mereka (para Rasul) tidak memberikan perhatian terhadap
perbaikan kerusakan-kerusakan lainnya yang menimpa umat dan bukan pula berarti
mereka tidak menyerukan kebaikan-kebaikan lainnya. Sebagaimana kisah dakwahnya
nabi Hud, nabi Shalih, nabi Luth dan nabi Syuaib.
Dizaman kita sekarang ini
juga kemungkaran itu bukan hanya syirik saja. Ada kemungkaran dalam bentuk
sekularisme, berhukum dengan hukum selain hukum Allah, memerangi Islam dan para
ulamanya, pemberangusan gerakan-gerakan Islam dan penculikan para aktifisnya.
Ringkasnya, tauhid adalah
kebaikan yang paling agung, dan syirik adalah kerusakan dan kezhaliman yang
paling besar.
Oleh karena itu,
dakwah apapun yang tidak dilandaskan kepada asas aqidah ini, kapan dan di mana
saja adalah “Dakwah Qashiroh Naqishah”, dihawatirkan akan mengakibatkan
kegagalan atau penyimpangan dari jalan yang lurus, bahkan akan mengakibatkan
kedua-duanya. Karena hal ini merupakan permasalahan yang sangat prinsipil,
siapa yang lengah dan lalai pasti ia akan terjerumus ke dalam kubangan syirik
dan bid’ah.
Para da’i mempunyai
kewajiban dan amanat yang cukup berat, yaitu meluruskan fikrah dan aqidah yang
menyimpang serta memperbaiki jiwa-jiwa manusia dan mensucikannya dari segala
kotoran yang dapat menutup hati mereka.
Aqidah Islam dilandaskan
kepada rukun Iman yang enam, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Baqarah :
177 , 285, surat Al Qomar : 49-50 dan hadits Jibril ketika dia bertanya kepada
Rasulullah saw tentang Iman.
1. Iman Kepada Allah Swt.
Iman kepada Allah
mencakup empat unsur : (a) Mengimani wujud-Nya (b) Mengimani rububiyah-Nya (c)
Mengimani uluhiyah-Nya (d) Mengimani asma’ dan sifat-sifat-Nya.
2. Iman Kepada Para
Malaikat.
Iman kepada malaikat
juga mencakup empat unsur : (a) Mengimani wujud mereka (b) Mengimani mereka
yang kita kenali nama-namanya (c) Mengimani sifat-sifat mereka (d) Mengimani
tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka.
3. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah.
Iman
kepada kitab-kitab Allah juga mencakup empat unsur : (a) Mengimani bahwa
kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah swt (b) Mengimani
kitab-kitab yang sudah kita kenali nama-namanya dan yang belum kita kenali (c)
Membenarkan seluruh beritanya yang benar dan belum dinasakh (dihapus) (d) Mengerjakan
seluruh hukum yang belum dinasakh serta rela dan menyerah pada hukum itu, baik
kita memahami hikmahnya maupun tidak.
4. Iman Kepada Para
Rasul.
Iman
kepada para rasul juga mencakup empat unsur : (a) Mengimani bahwa risalah
mereka benar-benar dari Allah swt (b) Mengimani mereka yang sudah kita kenali
namanya dan mengimani mereka yang belum kita kenali nama-namanya secara global
(c) Mengimani seluruh berita yang dibawa mereka (d) Mengamalkan seluruh syari’at yang dibawanya. Khusus
syariat Rasulullah saw diperuntukkan untuk seluruh umat.
5. Iman Kepada Hari Akhir.
Iman kepada hari
akhir mencakup tiga unsur : (a) Mengimani hari kebangkitan (b) Mengimani hisab
(perhitungan) dan jaza (balasan) amal (c) Mengimani surga dan neraka sebagai
tempat manusia yang abadi.
Iman
kepada hari akhir adalah termasuk mengimani peristiwa-peristiwa yang akan
terjadi sesudah kematian, seperti : Fitnah (pertanyaan) kubur, Siksa dan nikmat
kubur.
6. Iman kepada Qodar.
Iman kepada qodar
mencakup empat unsur : (a) Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
segala global maupun terperinci, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya
maupun perbuatan para hamba-Nya (b) Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu
di Lauhul Mahfuzh (c) Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada kecuali
dengan kehendak Allah swt, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun
perbuatan para makhluk-Nya (d) Mengimani bahwa seluruh yang ada adalah
diciptakan oleh Allah swt.
Aqidah Islam mempunyai banyak tujuan
yang baik yang mesti dipegang teguh oleh setiap muslim. Diantaranya adalah
sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin :
1. Memngikhlaskan niat dan ibadah semata karena Allah swt.
Karena Dia adalah Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekacauan yang timbul
akibat kosongnya hati dari aqidah ini.
3. Menciptakan ketenangan jiwa dan pikiran, tidak cemas dan
tidak goncang. Karena aqidah ini akan menghubungkan seorang mukmin dengan
penciptanya lalu rela bahwa Dia adalah Rabbnya yang mengatur dan Hakim yang
membuat undang-undang.
4. Meluruskan niat dan perbuatan dari penyelewengan dalam
beribadah kepada Allah swt dan bermuamalah dengan manusia.
5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak
menghilangkan kesempatan melakukan kebajikan kecuali digunakannya dengan
mengharap pahala, serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya karena
takut dari siksa Allah swt.
6. Membentuk umat yang kuat yang siap mengorbankan segala
yang mahal maupun yang murah untuk menegakkan dinnya serta memperkuat tiang
penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi di jalannya.
7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki
individu maupun masyarakat serta meraih pahala dan kemuliaan.
Allah swt menciptakan jin
dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana yang telah
dijelaskan di dalam ayat-ayat-Nya (Lihat : QS. Adz Dzariyat : 56, An Nisa : 36
dan Al Isra : 23).
Para Ulama telah
menafsirkan pengertian ibadah dengan beberapa pengertian yang
hampir mirip dengan yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
: “Ibadah adalah nama yang mencakup segala yang dicintai Allah dan diridhai-Nya
yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
mengatakan : “Hal ini menunjukan bahwa ibadah itu mengharuskan ketundukan
mutlak kepada Allah swt, baik berupa perintah, larangan, kepercayaan, perkataan
dan perbuatan. Kehidupan seseorang haruslah berdiri di atas syariat Allah,
menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan
Allah. Dia harus tunduk dalam prilaku, perbuatan dan semua sikapnya kepada
syari’at Allah, menjauhi keinginan jiwa dan dorongan nafsunya”.
Tidaklah disebut sebagai
hamba Allah, orang yang tunduk kepada Rabbnya hanya dalam sebagian asfek
kehidupannya saja, sementara dia tunduk kepada makhluk pada asfek kehidupan
lainnya. Itu sama sekali bukan cerminan dari Aqidah Islamiyah yang benar.
(Lihat : QS. An Nisa : 65 dan Al Maidah : 50).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
mengatakan : “Barang siapa yang tunduk kepada Allah, ta’at kepada-Nya dan
berhukum kepada wahyu-Nya, maka dialah hamba Allah. Namun barang siapa tunduk
kepada selain Allah dan berhukum kepada selain hukum-Nya, maka dia telah
menyembah thaghut dan tunduk kepadanya”. (Lihat : QS. An Nisa : 60)
Kemudian beliau
melanjutkan : “Ibadah kepada Allah semata dan berlepas diri dari penghambaan
kepada thaghut, sekaligus berlepas diri dari yang berhukum kepada thaghut
adalah merupakan tuntutan dari syahadat “La Ilaha Illallah Wahdahu La Syarika
Lah wa Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluh”.
Jelaslah sudah, bahwa jika
seseorang mengetahui bahwa berhukum kepada syari’at Allah merupakan konsekwensi
Syahadat (tuntutan Aqidah Tauhid), maka berhukum kepada hukum thaghut, dukun,
peramal dan hukum buatan manusia lainnya yang bertentangan dengan hukum Allah,
akan dapat menghilangkan (menghapus) keimanan kepada Allah swt. Tindakan ini
adalah suatu kekafiran, kefasikan dan kezhaliman. (Lihat QS. Al Maidah : 44,45,
dan 47).
Sebagai penutup dari makalah
sederhana ini, saya tegaskan kembali
bahwa setiap perkataan dan perbuatan serta seluruh aktifitas kehidupan seorang
muslim dan muslimah harus dilandaskan kepada aqidah yang benar (Aqidatuttauhid)
sebagaimana yang dipahami oleh para ulama yang shalih agar dapat mencapai dan
meraih kemaslahatan din dan dunia.
DR. Nashir bin Abd. Karim
Al ‘Aql mengatakan : “ Maka apabila aqidah sudah benar, manusia pasti akan
tunduk kepada Allah semata dan ta’at kepada Rasul-Nya serta istiqamah di atas
syari’at-Nya berlandaskan petunjuk dan bashirah, pada akhirnya urusan din dan
dunia mereka akan menjadi baik”.
Kemudian Jangan mudah terbujuk oleh paham dan fikrah yang
menyimpang dari landasan ini, siapapun penyerunya. Karena kebenaran adalah yang
datang dari Allah dan Rasul-Nya dan kebenaranlah yang lebih berhak untuk
diikuti.
Wallahu a’lam bish
shawab. Selamat belajar dan berjuang, ikhlaskan niat karena Allah. Semoga sukses
!!
1. Ar Rusul War Risaalaat, DR. Umar Sulaiman Al Asy qar
2. Mabahits Fi Aqidati Ahlissunnah Wal Jama’ah, DR. Nashir
bin Abd. Karim Al ‘Aql
3. Syarhu Ushulil Iman, Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin
4. At Tibyan Fi Aqsamil Qur’an, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
5. Al Wala’ Wal Bara’ Fil Islam, Syaikh Muhammad Sa’id Al
Qahthani
6. Wujub Tahkimi Syar’illah, Syaikh Abdul Azizi bin Baz
7. Al Ushul Ats Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Sulaiman At
Tamimi
Oleh : E. Badru Tamam, Lc.