23. TETAP SEMANGAT MESKI RAMADHAN TELAH BERLALU

23. TETAP SEMANGAT MESKI RAMADHAN TELAH BERLALU


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jama'ah shalat tarawih yang dimulyakan Allah Ta'ala
Takterasa Ramadhan hamper selesai meninggalkan kita. Meninggalkan ummat yang masih banyak penyakit, mulai dari kerusakan moral, menyebarnya berbagai kesyirikan, kemungkaran dan perbuatan dosa lainnya. Sementara belum ada jaminan bahwa kita akan menemuinya lagi di tahun yang akan datang. Masih ada tugas yang harus kita lakukan, yaitu melestarikan kebiasan Ramadhan dengan berbagai ibadah sehingga menjadi watak dan kebiasaan kita dibulan-bulan selanjutnya.
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga.
Ada beberapa amalan yang harus tetap dijaga paska Ramadhan. Diantara pon-poin tersebut adalah ;
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Tetap Menjaga Shalat Lima Waktu dan Secara Berjama’ah di Mesjid
Bulan Ramadhan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang biasanya malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, di bulan Ramadhan begitu bersemangat melaksanakan shalat berjamaah. Hendaklah shalat berjama’ah di masjid di awal waktu ini tetap dipertahankan, khusus untuk kaum pria.
Shalat berjama’ah di masjid juga memiliki keutamaan yang sangat mulia dibanding shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya shalat berjamaah di mesjid adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid’. Kemudian pria ini meminta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dia keringanan. Namun, tatkala dia mau berpaling, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil pria tersebut dan berkata, ‘Apakah engkau mendengar adzan ketika shalat?’ Pria buta tersebut menjawab, ‘Iya.’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penuhilah panggilan tersebut’.” (HR. Muslim)
Jama'ah shalat tarawih yang dimulyakan Allah Ta'ala
Bila seorang pria buta yang memiliki udzur (alasan) untuk tidak jama’ah di masjid, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikannya keringanan, dia tetap diwajibkan untuk shalat jama’ah di masjid, tentu kita sebagai orang yang sempurna matanya, tidak ada alasan untuk menunaikan shalat di mesjid seacara berjamaah.
Tetap Membaca Al Qur’an
Kita hendaklah tetap membaca Al Qur’an dan mempelajari Al Qur’an setiap hari. Jangan sampai ada hari tanpa membaca Al Qur’an. Karena ia adalah pentunjuk manusia, penyembuh dari berbagai penyakit hati dan jasmani dan sumber dari segala hukum.
Para sahabat biasa mengkhatamkan Al Qur’an setiap malam bahkan lebih. Tapi umat saat ini sudah sangta bagus bila setiap hari dapat membaca Al Qur’am satu juz, sehingga setiap bulan khatam Al Qur’an sebagaimana yang kita lakukan di bulan Ramadhan.
Ia harus kita jadikan sebagai zdikir harian kita. Jika pada bulan Ramadhan kita memiliki target untuk mengatamkannya, maka bulan-bulan setelah Ramadhan juga harus kita target. Para ulama’ memberikan penjelasan bahwa kadar dzikir al qur’an bagi seorang muslim diusahakan khatam dalam 1 bulan. Jika belum mampu, yang jelas jangan biarkan hari berlalu tanpa bacaan al qur’an.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Memperbanyak Puasa Sunnah
Selain kita melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan,  hendaklah kita menyempurnakannya pula dengan melakukan amalan puasa sunnah. Di antara keutamaannya adalah disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ
Puasa adalah perisai, …” (HR. Muttafaq alaih ) Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka.
Puasa-puasa sunnah setelah Ramadhan adalah puasa enam hari bulan Syawal. Puasa di bulan Hijriyah pada tanggal 13, 14, dan 15, puasa Senin-Kamis, puasa Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), dan memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jika ada yang punya kemampuan boleh juga melakukan puasa Nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak.
Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal
Hendaklah di bulan Syawal ini, setiap muslim berusaha untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Tetap Rajin Bresedekah dan infak
Salah satu pelajaran dari berpuasa di bulan Ramadhan adalah agar kita merasakan betapa menderitanya orang yang lapar dan haus. Begitulah yang diarasakan oleh orang-orang miskin, anak yatim dan piatu yang tidak punya cukup makan dan pakaian.
Hendaknya di luar Ramadhan kita tetap bermurah hati, senang memberi, berinfak dan bersedekah. Kewajiabn utama adalah membayar zakat mal dan fitrah.
Jama'ah shalat tarawih yang dimulyakan Allah Ta'ala
Tetap Tutup Aurat
Kita sering melihat di kalangan umat, terutama kaum wanita yang di dalamnya termasuk para selebiti yang sering muncul di TV. Pada bulan Ramadhan, mereka memakai pakaian yang menutup auratnya seperti jilbab, dan burdah. Tapi setelah Ramadhan berlalu, pakaian yang menutup aurat itu dibuka kembali.
Perintah menutup aurat ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan wajib hukumnya bagi setiap Muslimah. Allah berfirman: ”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (Al Ahzab 59).
Saat ini sebagian besar wanita Indonesia, terutama remaja putri berpakaian yang sangat minim, menampakkan auratnya, termasuk puser dan belahan buah dada mereka, yang mengundang syahwat para lelaki. Apalagi bagi wanitta selebritis, baik pemain sinetron, penyanyi, dan presenter, karena mereka adalah idola para penggemarnya, maka tidak heran kalau sebagian besar masyarakat meniru cara berpakaian mereka.
Wanita yang sudah berpakaian jilbab-pun masih banyak yang sexy. Mereka memakai celana dan baju jilbab yang ketat sehingga lekuk-lekuk tubuhnya malah semakin tampak jelas dan sexy. Rambutnya dikeluarkan atau “dijolorkan” dari kerudungnya. Mereka memakai jilbab hanya untuk mengikuti mode, bukan karena iman kepada Allah atau mencari ridho Allah. Bukan ikhlas karena Allah. Hal ini tidak ada nilainya samasekali di Hadapan Allah.
Jama'ah shalat tarawih yang berbahagia
Demikian beberapa amalan yang mestinya tetap kita jalankan setelah bulan Ramadhan berlalu. Dan bila itu kita mampu laksanakan, insya Allah puasa kita telah berhasil untuk menjadikan kita orang yang bertaqwa, mendapat kebahagian di dunia berupa ketenangan dan di akhirat dibalas dengan jannah.
وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ *  وَ أَقُوْلُ رَبِّغْفِرلَنَا وَ ارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحَمِيْن
Pages (11)1234567 Next