15. JANGAN MIMPI JADI QARUN
Qarun,
adalah sepupu Nabi Musa. Ia dikenal sebagai seorang hartawan di Mesir. Dalam Al
Qur’an, nama Qarun disebut sebanyak 4x. Satu kali dalam surat Al-Ghâfir
(Al-Mu’min) dan Al-’Ankabût, dua kali dalam surat Al-Qashash. Allah Ta’ala
memberikan anugerah kepadanya berupa limpahan harta. Tetapi, tak mampu
bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan hartanya.
Pola
pikir Qarun yang materialitistik, menyeretnya semakin jauh dari rasa syukur.
Syariat Allah Ta’ala dianggapnya tidak memiliki korelasi dengan
kecemerlangan kehidupan. Dengan sikap sekulernya, syariat Allah Ta’ala
dan kesuksesan di dunia dianggap sebagai dua entitas yang berbeda dan tidak
saling berhubungan sama sekali. ‘Tuhan’ – dalam diri Qarun — sama sekali tak
mendapat ruang dan tempat dalam praktik kehidupan ekonominya.
Bahkan,
karena penampilannya yang ‘glamour’, ternyata telah menarik perhatian para
pengikutnya. Begitu luar biasa kayanya Si Qarun ini, orang-orang pun
mengidolakannya dan bahkan bercita-cita untuk menjadi seperti dirinya. Mereka
berusaha meniru langkah Qarun dalam memperkaya dirinya. Karena, mereka anggap
sikap-sekuler Qarun sebagai penyebab keberhasilannya. Allah Ta’ala
berfirman ;
قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنيَا
يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ.
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِّمَنْ
آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ
“Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai
seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar
mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi
ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu
kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS al-Qashash 79)
Dalam sebuah
masyarakat berideologi materialisme seperti hari ini, semua orang manjadi
sangat iri dan berambisi menjadi kaya. Dan setiap kali melihat ada orang
berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka, serasa ingin sekali untuk
menjadi kaya seperti mereka. Persis sebagaimana masyarakat Mesir di zaman
hidupnya seorang tokoh kaya-raya bernama Qarun digambarkan pada ayat di atas.
Zaman kita
dewasa inipun keadaannya sangat mirip dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai
kemewahan tokoh kaya, selebritis, artis, olah ragawan dan pejabat
dipertontonkan di televisi dan media lainnya, sehingga masyarakat berdecak
kagum dan tentunya menjadi iri dan berambisi ingin menjadi hartawan seperti
mereka pula. Sedemikian kuatnya ambisi tersebut terkadang muncullah berbagai
kasus mengerikan di tengah masyarakat. Muncullah perdagangan bayi, penjualan
organ tubuh, pelacuran, korupsi, pencurian, perampokan dan pengkhianatan para
pejuang yang semestinya berada di jalan Allah Ta’ala. Semua
dilakukan karena terbuai dengan mimpi ingin secara instan menjadi seorang yang
kaya.
Qarun, nama yang begitu disebut maka pikiran kita akan
terbawa pada bayang-bayang timbunan harta di dalam tanah. Sudah menjadi kamus
umum, tatkala di tanah manapun benda berharga ditemukan, orangpun menyebutnya
dengan harta Qarun (Karun). Mungkin karena begitu banyaknya timbunan harta yang
dimiliki Qarun dahulu, sebelum akhirnya semua dibenamkan ke dalam bumi oleh
Allah Ta’ala
bersamaan dengan pemiliknya.
Nilai Kekayaan Qarun
Allah
Ta’ala menggambarkan kekayaan Qarun dalam
firmanNya,
“Kami
telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya
sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS al-Qashash 76)
Ibnu Katsir menyebutkan, untuk mengangkut kunci gudangnya,
dibutuhkan 60 bighal (peranakan antara kuda dan keledai), belum termasuk isi
gudangnya. Sedangkan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa yang mampu mengangkat adalah
40 orang yang kuat-kuat. Bahkan Abu Razin menyebutkan, bahwa satu kunci gudang
saja, sudah bisa mencukupi penduduk Kufah. Maka terbayang seberapa banyak
tumpukan hartanya jika seluruh gudang dibuka dengan kunci-kuncinya. Wallahu
a’lam.
Harta adalah Ujian
Tak hanya kalangan masyarakat di zaman Qarun, hingga hari
ini harta masih menjadi barometer kemuliaan dan kesuksesan. Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ
أُمَّتِي الْمَالُ
“Setiap
umat menghadapi ujian (fitnah), dan ujian bagi umatku adalah harta.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan,
“shahih” )
Yakni harta menjadi ujian, bagi yang memiliki apakah
menjadikannya syukur atau kufur. Harta juga menjadi ujian bagi yang belum
memiliki, apakah ia bersabar ataukah tidak, mencari dengan jalan yang halal
atukah haram. Termasuk ujian, bagaimana menyikapi orang lain yang bergelimang
dengan harta.
Maka, alangkah berharga pelajaran yang Allah Ta’ala kisahkan tentang Qarun bagi umat ini.
Agar orang yang diberi limpahan harta tidak menjadi ‘Qarun’ baru. Dan bahwa
Qarun bukanlah panutan ideal yang layak dijadikan acuan atau ukuran kesuksesan.
Karena pada akhirnya, Allah Ta’ala menghinakan Qarun dengan akhir kehidupan yang sangat
tragis. Allah berfirman,
“Maka
Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS al-Qashash 81)
“Maka
terbukalah mata orang-orang yang menyaksikan tragedi itu. Mereka yang tadinya
memimpikan posisi seperti Qarun, akhirnya tersadar telah salah dalam
menilai kesuksesan. Mereka berkata, “Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki
bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau
Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia tentu telah
membenamkan kita (pula).” (QS
al-Qashash 82)
Mereka sadar, seandainya Allah Ta’ala tidak mengasihi mereka, dan mereka
tetap dengan obsesinya menyusul ‘kesukesan’ Qarun, tentu mereka akan tenggelam
bersama Qarun. Akan tetapi..
Adakah
mata pikiran dan hati kita juga telah terbuka tatkala membaca kisah ini?
Harta
tidaklah menunjukkan keridhaan Allah Ta’ala kepada pemiliknya?
Allah
Ta’ala memberikan dan menahan harta,
menyempitkan dan meluaskan rezeki semata-mata sebagai ujian?
Bukan karena Qarun Kaya
Sisi cela yang dimiliki Qarun, yang menjadi sebab Allah Ta’ala menjadi murka dan menurunkan siksa,
bukan karena Qarun itu kaya. Akan tetapi karena kufurnya Qarun terhadap nikmat
Allah Ta’ala.
Ia menganggap bahwa segala perbendaharaan yang ia miliki itu semata-mata karena
ilmunya. Padahal sebelumnya ia telah diberi peringatan dengan nasihat yang
gamblang, Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Janganlah
kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu
membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. “ (QS al-Qashash 76-77)
Masihkah
kita tergiur dengan orang-orang tipe Qarun hari ini? Jangan ulangi kegagalan
“Qarun”, yang karena kesombongan dengan harta dan juga keserakahannya terhadap harta,
akhirnya menjadi manusia (yang) tak berdaya. [Amru]