5. TIPS KAYA DUNIA AKHIRAT
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ
وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ
اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى
يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah Shalat Tarawih Rahimakumullah
Segala puji milik Allah Ta’ala
yang telah menciptakan kita dengan sebaik-baik ciptaan. Dan memberi kita akal
untuk membedakan antara yang haq dan batil. Shalawat dan salam senantiasa
tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah.
Kurangnya
sifat qana'ah dalam diri seorang muslim muncul dari tidak mantapnya iman
seseorang. Tidak bisanya seseorang ridha terhadap qadar di kala susah dan
senang menjadi penyebab utamanya. Karena itulah, termasuk do'a beliau Sallallahu
‘Alaihi Wasallam :
...وَأَسْأَلُكَ
نَعِيْمًا لاَيَنْفَدُ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لاَتَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا
بِالْقَضَاءِ
"…dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak pernah
pudar, kesejukan mata yang tidak pernah terputus, dan aku memohon kepada-Mu
keridhaan terhadap qadha`." [ Shahih Sunan an-Nasa`i,
kitab sahwi, bab ke-62, no. 1238 ].
Pondasi
yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah memiliki keimanan
yang mantap kepada hari akhir dan keyakinan yang benar tentang takdir baik dan
buruk.
Keimanan
terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridha
terhadap apa yang dialami, baik suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia
tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun
kemiskinan yang menimpanya.
Rasulullah Sallallahu
‘Alaihi Wasallam memberikan buah keimanan ini dalam hadis beliau ;
عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ
ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ
أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ
Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungmua urusannya
baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang
beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik
baginya. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik
baginya.” (HR Muslim 5318).
Ada
beberapa hal yang akan membantu seseorang untuk memiliki sifat qana’ah. Yaitu
karakter untuk menerima apa yang telah Allah Ta’ala berikan berupa
nikmat sedikit ataupun banyak. Di antara cara untuk mendapatkannya adalah ;
Pertama; Memiliki
ilmu agama yang memadai.
Ilmu
agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini.
Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qana’ah.
Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap
rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu
agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian
kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.
“Dan tiadalah
kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu
memahaminya? (QS. Al-An’am:32)
Kedua : Pemahaman
yang Benar tentang Qadha dan Qadar.
Allah
Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak
zaman azali sesuai takdir yang telah ditetapkan-Nya. Pembagian yang
dilakukan merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu Allah Ta’ala. Maka
kita harus memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap
dunia, tidak akan menambah rizki kita yang telah ditetapkan. Karena tidak
mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan taqdir dan qadar Allah Ta’ala.
Sikap
ridha seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qadha dan qadar Allah Ta’ala
akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan
hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang
satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita. Ujian bagi
orang kaya dengan kelebihannya. Ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya.
Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan
bukti perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Ta’ala.
“Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)
“Bersikaplah ridha
terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang
paling kaya.” (HR.Ahmad).
Ketiga : Perjuangan
Mental dan Bersabar.
Sesuai
dengan kebijaksanan-Nya, Allah Ta’ala telah memberi kita nafsu yang
senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya.
Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qana’ah.
Selama kita tidak melawan nafsu, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu
ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.
“Jauhilah sifat
syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong
mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan
bagi mereka.” (HR.Muslim).
Imam
Ibnu Rajab al Hanbali Rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi
besar yang mendorong pemiliknya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak
menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah senang terhadap
apa yang diharamkan Allah Ta’ala serta tidak puas dengan yang telah
dihalalkan oleh Allah Ta’ala, baik menyangkut harta, kemaluan, atau
lainnya.
Keempat : Berdoa dan
Memohon kepada Allah Ta’ala.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR.Muslim).
Syaikh Abdurrahman
Nashir As-Sa’di Rahimahullah, berkata: ”Ini merupakan salah satu doa
yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini
mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf
(sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan
di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa
kaya dengan Allah Ta’ala, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati
terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa
menenangkan hati. Dengan semua itu, sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia dan
ketenangan batin, dan itulah hayah thayyibah (kehidupan yang baik).
Kelima : Melihat yang
di bawah dalam hal Keduniaan
Setiap
kita pasti telah dikaruniai nikmat Allah Ta’ala yang tidak mampu kita
inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita
alami adalah nikmat dan karunia Allah Ta’ala yang terkira. Namun, kita merasa
kurang dan kurang. Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang
yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.
Seandainya
kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, misal satu nikmat dari
Allah Ta’ala dicabut (nikmat sehat). Baru kita merasakan betapa
berharganya nikmat itu. Karena; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya
sifat qana’ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita.
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ
فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ
أَسْفَلَ مِنْهُ
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam Bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari
kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu
akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR.Bukhori).
Semoga
Allah Ta’ala senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita;
serta kaum muslimin dengan sifat qana’ah. Amiin.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ
كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمِ.
[ Nur Kholis ]