8. KEBODOHAN PINTU PERTAMA SETAN

8. KEBODOHAN PINTU PERTAMA SETAN



اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Shalat Tarawih Rahimakumullah
Segala puji milik Allah Ta’ala yang telah menciptakan kita dengan sebaik-baik ciptaan. Dan memberi kita akal untuk membedakan antara yang haq dan batil. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang disinari cahaya Islam.
Kebodohan adalah pintu dari segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ramainya para penyembah kuburan di dunia ini juga dikarenakan kebodohan. Maraknya berbagai kesyirikan dan kemunkaran juga disebabkan kebodohan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa segala bentuk dosa bermula dari sini. Setan memperlakukan orang bodoh sebagaimana seorang anak yang memainkan bola mainannya.
Orang yang bodoh tidak mengetahui pintu setan dan strateginya. Mereka tidak dapat membedakan antara yang benar dan salah dalam tinjuan Islam. Kadang kebenaran dianggap kebatilan, sementara kebatilan dianggap kebenaran. Yang bid’ah dianggap sunnah dan sebaliknya. Sementara jalan ke jannah dianggapnya jalan ke neraka dan sebaliknya. Kemaksiatan dianggap ketaatan dan sebaliknya. Orang semacam ini adalah orang paling merugi di dunia meskipun menganggap sebaik-baiknya manusia. Allah Ta’ala berfirman ;
ö@è% ö@yd Lälã¤Îm7t^çR tûïÎŽy£÷zF{$$Î/ ¸x»uHùår& ÇÊÉÌÈ   tûïÏ%©!$# ¨@|Ê öNåkߎ÷èy Îû Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# öNèdur tbqç7|¡øts öNåk¨Xr& tbqãZÅ¡øtä $·è÷Yß¹ ÇÊÉÍÈ  
”Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [ QS. Al Kahfi : 13 – 14 ].
Senang Jadi Orang Bodoh
Setan dalam menghadapi orang-orang bodoh cukup mudah. Hanya dengan melestarikan kebodohan dan menanamkan rasa cinta terhadap kebodohan tersebut. Di samping itu setan juga menghalang-halanginya dari belajar. Setan akan mendatangi orang yang telah lanjut usia dan mengatakan : “Usiamu telah lanjut, apakah engkau tidak malu kalau mau belajar?. Orang itu akan minder dan mengurungkan keinginanya untuk belajar. Padahal belajar pada saat tua adalah sesuatu yang afdhal dibandingkan yang tidak mau belajar dan rela dengan kebodohannya.
Sementara itu, setan juga membisikkan pada anak muda yang belajar dengan mengatakan: “Jangan biarkan waktu mudamu untuk mendalami Islam, nanti saja setelah kamu tua. Gunakan waktu mudamu untuk mengejar cita-citamu sebagai bekal hari tuamu.” Pupuslah keinginannya untuk belajar Islam, dan ia tunda keinginannya itu besok kalau sudah tua. Padahal belum tetntu ia sempat belajar nantinya dan tidak ada yang menjamin ia masih diberi umur panjang.
Jika ada yang ingin mendalami ilmu, setan membisikkan, “Jika kamu mengetahui banyak dari ilmu Islam ini, pastilah semakin banyak tanggung jawabmu untuk mengamalkannya. Tapi jika kamu bodoh, itu bisa menjadi udzur bagimu untuk tidak beramal.” Atau bisikan “Buat apa kamu banyak mencari ilmu, paling juga tidak dapat mengamalkannya. Lebih baik ilmunya sedikit tapi diamalkan, dari pada banyak tapi tidak diamalkan.” Selanjutnya setan memberikan banyangan-bayangan yang sulit jika menjadi orang yang berilmu. Terbayanglah berbagai perintah dan larangan yang akan ia laksanakan dan tinggalkan gara-gara sudah mengilmuinya. Maka kebodohan menjadi pilihan terbaik bagi mereka.
Ada seseorang yang datang pada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu  dan berkata : “Aku ingin belajar, tetapi aku takut akan menyia-nyiakan ilmu.” Beliau menjawab, “Cukuplah engkau dikatakan menyia-nyiakan ilmu jika tidak mau belajar.”
Setan juga piawai menjebak orang-orang yang banyak bergelut dengan ilmu dunia. Tujuannya adalah agar mereka meremehkan ilmu agama dan merasa cukup dengan apa yang dipelajari saat di SD. Setan membisikkan, “Mendalami ilmu agama itu tugasnya pada da’I, ustadz, kiyai dan para juru dakwah. Jadi jika kamu tidak termasuk di antara mereka, cukuplah dengan pelajaran-pelajaranmu saat kau di bangku sekolah dahulu.” Dengan bisikan tersebut, ia jadi malas untuk mendalami Islam diberbagai majlis ilmu.
Tidak mau Belajar dapat menyebabkan Kekufuran
Banyak orang yang memilih menjadi bodoh tentang ajaran Islam. Ia mengira bahwa kebodohan akan ajaran Islam akan menjadikannya terbebas dari berbagai kewajiban syari’at. Jelas ini adalah anggapan yang keliru. Orang yang sengaja menjadi bodoh dan tidak mau untuk mempelajari Islam pada hal-hal yang diwajibkan baginya seperti shalat, zakat, puasa ramadhan, tauhid dan syirik, dan hal-hal lainnya dapat menyebabkan pelakunya masuk dalam kekufuran. Allah Ta’ala berfirman ;
ô`tBur ãNn=øßr& `£JÏB tÏj.èŒ ÏM»tƒ$t«Î/ ¾ÏmÎn/u ¢OèO uÚ{ôãr& !$yg÷Ytã 4 $¯RÎ) z`ÏB šúüÏB̍ôfßJø9$# tbqßJÉ)tFZãB ÇËËÈ  
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” [ QS. As Sajdah : 22 ].
Ayat ini menunjukkan bahwa berpaling dari pokok-pokok ajaran Islam, dengan tidak mau mempelajarinya serta tidak mau beramal dengannya, dapat menyebabkan pelakunya jatuh pada kekufuran.
Marilah kita lihat, betapa sepinya kajian-kajian rutin yang diadakan di Masjid-masjid. Mulai dari kajian fiqih, aqidah serta materi-materi lainnya. Seakan-akan kajian itu hanya untuk orang yang luang dan masih memiliki banyak waktu saja. Sementara orang yang sibuk tidak usah mengikuti saja.
Ingatkah kita dengan Ibnu Jarir At Tabari yang betul-betul mencintai ilmu sepanjang hidupnya? Jika dikalkulasi, setiap harinya beliau menulis tidak kurang dari puluhan lembar. Maka tidak heran jika karangan-karangan beliau hari ini menjadi rujukan utama dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan, ketika seseorang mendo’akan beliau saat sakit yang menjadikan beliau wafat, beliaupun tertarik untuk menulis do’a tersebut. Setelah beliau menulis, di saat tamunya hendak keluar, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Semakin banyak ilmu agama yang kita miliki, maka semakin banyak pula peluang kita untuk mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Di samping itu, kita juga akan semakin bertambah ketakwaan kita pada Allah Ta’ala karena paham betul mana yang dilarang dan mana yang diperintahkan.
Demikian yang kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah semangat kita dalam mencari ilmu.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
[ Nur Kholis ]
Pages (11)1234567 Next