02. Harta Dalam Kaca Mata Islam
Muqaddimah
Berangkat dari Fenomena yang terjadi di
masyarakat hari ini yang sungguh menyedihkan dan memperihatinkan sekali, terutama dalam cara pandang dan sikap
mereka terhadap harta. Paling tidak ada dua golongan yang sama-sama ekstrim.
Kelompok pertama adalaha mereka yang terlalu "ifroth" (berlebihan),
sehingga yang terdertik dalam benaknya dan terlintas di otaknya dari sejak
bangun tidur hingga tidur kembali hanya bagaimana agar bisa mendapatkan harta yang
sebanyak-banyaknya tanpa bersusah payah, sehingga mereka mengabaikan rambu-rambu syar'i.
Adapun
kelompok yang kedua, mereka dalam memandang harta ibarat "barang
rongsokan" yang tidak ada harganya. Sehingga muncullah sikap acuh tak
acuh dan cuek terhadapnya. Bahkan ia ogah-ogahan dan bermalas-malasan untuk
mencarinya. Sikap ini timbul karena mereka beranggapan bahwa harta adalah
perkara dunia yang menyibukkan dan memalingkan seseorang dari mengingat Allah
Ta'ala dan akherat. Sehingga yang terjadi, banyak dari keluarga mereka yang
terlantar. Bahkan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari saja ia harus
ngutang kesana kemari, anak dan istri tidak terurus sebagaimana mestinya.
Mereka inilah yang terjebak dalam sikap "tafrith" (terlalau
meremehkan). Dan dalam dua sikap ini keduanya sama-sama tidak arif dan
bijaksana dan tidak ada kebaikannya kecuali sedikit sekali. Dan keduanya ini
sama-sama akan membinasakannya.
Orang
bilang, "Harta adalah segala-galanya, tanpa harta maka binasa",
tapi sebenarnya pernyatan ini harus dibuktikan. Benarkah harta membuat orang
itu sukses dalam setiap perkara?
Ada juga yang mengatakan,
"Harta itu membuat orang hancur dan binasa". Jika memang benar, kapan itu bisa terjadi?
Lalu
langkah dan sikap yang bagaimankah yang seharusnya kita trmpuh dan ambil? Dan
jika kita mempunyai harta, apakah yang harus kita lakukan sebagai muslim yang
baik? Insya Allah akan anad temukan jawabannya setelah anda membaca sekaligus
menelaah tulisan ini. selamat membaca!
A. Anjuran Mencari Harta
Seseorang
dikatakan meimiliki semangat yang tinggi dalam mencari rizki adalah ketika ia
mau bekerja, dan tidak mau bergantung kepada orang lain, tidak meminta minta,
serta tidak mau menerima sedekah kecuali dalam kondisi betul-betul terpaksa.
Islam telah
memerintahkan kepada umatnya agar bertebaran di muka bumi dalam rangka untuk
mencari rizki, mencela meminta-minta, dan melarangnya kecuali dalam kondisi terpaksa.
hal ini dimaksudkan untuk memuliakan seorang muslim dari kehinaan dan memompa
semangat serta menjaga kemuliaan dirinya.
Banyak
sekali nash-nash yang berbicara masalah ini, baik dari al-qur'an maupun
al-hadits yang berkaitan tentang anjuran untuk bekerja keras.
Keutamaan Mata
Pencaharian dan bekerja
Alllah
Ta'ala berfirman :
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
"Dan kami jadikan
siang untuk mencari penghidupan"
( QS. An-Naba' :
11 )
وَلَقَدْ
مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا
تَشْكُرُونَ
"Dan kami adakan bagi
kalian dimuka bumi itu sumber penghidupan, amat sedikitlah kalian
bersyukur"
( QS. Al-A'rof : 10 )
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ
رَبِّكُمْ
"tidak ada dosa bagi
kalian untuk mencari karuni (rezki hasil perniagaan) dari Robb kalian" ( QS. Al-Baqaroh : 198 )
فَانْتَشِرُوا
فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
"maka bertebaranlah
kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah."
Rasullullah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda :
ماأكل أحد طــــعاما قـط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإنّ
نبــيّالله داود كان يأكل من عـمل يـده
"Tidaklah sekali-kali
seseorang makan makanan yang lebih baik dari pada makan dari kerja tangannya
sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah I Daud juga makan dari kerja tangannya
sendiri" ( HR. Bukhari ).
Para Nabi dan Rasul menjadi
hamba-hamba Allah Ta'ala yang memberikan
keteladanan dalam mencari rizki. Mereka bekerja keras untuk membiayai nafkah
keluarga mereka.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam,
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ
أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ
مَكَّةَ
Dari Abu
Hurairah t bahwasanya Nabi r
bersabda,"Tidaklah Allah I mengutus seorang
nabi pun, kecuali ia menggembala kambing. Para sahabat bertanya, "bagaimana
dengan anda? Beliau manjawab,"Ya, saya juga menggembala kambing penduduk
Mekkah degan upah beberapa keping dinar." (HR.
Bukhari, kitabul ijarah, no. 2262).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا
Dari Abu Hurairah t bahwasanya
Rasulullah r bersabda, "Nabi Zakaria
As adalah seorang tukang kayu." (HR. Muslim, kitabul
fadhail. Ibnu Majjah kitabut tijarah dan Ahmad)
Demikianlah Rasulullahsaw senantiasa semangat bekerja keras tanpa perlu
merasa rendah dengan pekerjaan yang dikerjakan.
عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ
حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ
اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ
مَنَعُوهُ
Dari Zubair bin Awwam
bahwasanya Nabi r bersabda, "salah
seorang dari kalian membawa seutas tali dan mencari kayu bakar lalu memanggul
di atas punggungnya lalu ia jual sehingga Allah I memenuhi
kebutuhan hidupnya, adalah lebih baik baginya daripada mendatangi orang lain,
kemudian ia meminta orang tersebut, baik orang itu memberinya atau tidak. "(HR. Bukhari,
kitabuz zakat 1471, An-Nasa'i kitabuz zakat dan Ahmad)
Ibnu Abbas berkata : Adam seorang
petani, Nuh tukang kayu, Idris penjahit, Ibrahim dan Luth petani, Sholeh
pedagang, Daud pandai besi, Musa, Syu'aib dan Muhammad pengemabala kambing.
Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu
'Anhu berkata, "janganlah seorang
dari kalian mengharap datangnya rizki dengan duduk berpangku tangan saja,
sambil berdo'a, "Ya Allah, berilah rizki kepadaku' padahal kalian
sudah mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas ataupun
perak."
Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu
'Anhu berkata, "Aku sangat membenci
seseorang yang tidak berusaha (bekerja), baik untuk urusan dunianya maupun
urusan akheratnya."
Imam Ahmad rahimahullah ditanya :
Apa komentar anda tentang seorang laki-laki yang hanya duduk dirumahnya atau
dimesjid, sambil berkata, "aku tak perlu bekerja apapun, toh rizkiku akan
datang sendiri'.
Imam Ahmad menjawab : Dia adalah
orang yang tidak mengetahui ilmu, apakah ia tidak pernah mendengar sabda Nabi Shalallahu
'Alaihi wa Sallam, "sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan rezkiku dibawah lindungan tombakku."
Beliau juga pernah bersabda tatkala melihat seekor burung ia pergi pagi hari
dalam keadaan lapar dan pada sore hari dalam keadaan kenyang'.
Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, Ibadah
menurut pandangan kami bukan berarti engkau membuat kedua kakimu kepayahan dan
orang lain payah karena melayanimu. Tetapi mulailah dengan mengurus adonan
rotimu, setelah itu beribadahlah. Jika ada yang berkata, 'bukankah Abu Darda'
pernah berkata, 'Perniagaan dan ibadah yang sama-sama dikerjakan, tidak akan
bisa bersatu?' Dapat dijawab sebagai berikut, "kita tidak mengatakan,
bahwa bukan perniagaan itu sendiri yang dimaksudkan. Tetapi karena memang
perniagaan sesuatu yang pasti dibutuhkan manusia, untuk mencukupi kebutuhan
keluarga dan menyerahkan kelebihannya kepada orang lain yang membutuhkan, Tapi
jika yang dimaksud adalah perniagaan itu sendiri, menumpuk harta, untuk membagakan diri dan
tujuan-tujuan (duniawi) lainnya, maka ini adalah sesuatu yang tercela. Jadi
hendaknya ikatan yang bisa dihimpun dalam mata pencaharian ada empat perkara:
Dilakukan secara sah, adil, bijak dan mementingkan agama. ( Minhajul Qosidin:
99-100 )
Balasan bagi orang yang mau
bekerja keras
Orang yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, mendapatkan
semangat dan kabar gambira dari Allah Ta'ala dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.
Hasil usaha membanting tulang untuk membiayai kebutuhan keuarga dianggap
sebagai sebuah shadaqah yang lebih besar pahalanya dari shadaqah untuk jihad
dan memerdekakan budak.
عَنْ
ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ
وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ
يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Dari Tsauban bin Bujdud berkata,
Rasulullah r bersabda, "Dinar harta
paling utama yang di infakkan oleh seseorang adalah dinar yang ia keluarkan
untuk membiayai kebutuhan keluarganya, dinar yang ia keluarkan untuk biaya
kendaraan berperang di jalan Allah. Dan dinar yang ia keluarkan untuk membiayai
rekan-rekannya berperang di jalan Allah I". (HR. Muslim,
kitabu zakat 38, Ibnu Majah kitabul Jihad. 2760)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ
وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ
بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا
الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
"Dari Abu Hrairah t, bahwasanya
Rasulullah r bersabda,"Dinar yang
engkau kelurakan untuk berperang di jalan Allah., dinar yang engkau keluarkan
untuk memerdekakan budak, dinar yang engkau keluarkan untuk faqir miskin dan
dinar yang engkau keluarkan untuk membiayai kebutuhan keluargamu. Dari keempat
jenis dinar yang engkau keluarkan ini, yang paling besar pahalanya adalah yang
engkau keluarkan untuk membiayai keluargamu." (HR. Muslim kitabuz zakat.
39)
Ancaman
bagi orang yang malas bekerja keras
Setiap orang
adalah beratanggung jawab atas yang di pimpin dan setiap kepala keluarga
bertanggung jawab terhadap keluarganya. Maka, apabila seseorang tidak memikirkan keluarga dan menjadikannya
terlantar. Maka, ia telah malakukan sebuah kemaksiatan dan perbuatan dosa.
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Dari Abdullah bin Amru radhiallahu 'anhuma
bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "cukuplah
seseorang dianggap berbuat dosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang
menjadi tanggungannya." (HR. Abu Dawud kitabuz zakat. 1692, Ahmad. 2/160)
Oleh karena itu,
bekerja untuk menghidupi keluarga merupakan tuntutan dalam islam bagi setiap
kepala keluarga tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama.
B. lARANGAN MEMINTA-MINTA
Sebagaiman
Islam menganjurkan untuk bekerja dalam rangka mencari rizki serta mencela
seseorang yang meminta-minta dan bergantung kepada orang lain, baik itu berupa
mengambil sedekah atau pemberian orang lain kecuali dalm kondisi terpaksa
sekali dan sangat membutuhkan. Akan tetapi sebenarnya hal iotu untuk menjaga wibawa
dan kemuliaan kaum muslimin itu sendiri.
Adapun
nash-nash yang menjelaskan tentang hal ini cukup anyak sekali, mari kita simak
dengan seksama.
Dari
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda, -ketika itu beliau berada di atas mimbar dan sedang
membicarakan tentang sedekah dan hinanya meminta-minta- "Tangan diatas
lebih baik dari pada tangan dibawah, dan tangan di atas adalah yang memberikan
infaq sdangkan yang dibawah adlh yang meminta" (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abi
Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
bersabda, "Bukanlah orang yang kaya itu yang mempunyai banyak harta, tapi
oaring yang kaya adlh yang kaya jiwa" (HR. Bukhari)
Berapa
banyak orang yang banyak harta tapi miskin jiwa, hal ini karena ketamakan dan kekikirannya terhadap harta
tersebut. Akan tetapi betapa banyak orang yang hartanya paspasan yang hanya
unutk makan saja ia harus banting tulang
peras keringat dan bersausah payah tapi hatinya kaya, sehingga meskipun
keadaanya demikiaan ia sudah merasa cukup. Ia sandarkan semunya nya hanya
kepada Allah Ta'ala semata.
Dari
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda, "orang yang suka meminta-minta diantara kalian akan
menghadap Allah dalam keadaaan wajahnya tidak ada sekerat dagingpun" (HR.
Bukhori Muslim)
Dari
samurah bin Jundub berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam berasabda,
"Sesungguhnya meminta-minta adalah pekerjan yang melelahkan yang akan
mengoyak waqjahnya, kecuali kepada dan dalm kondisi terpaksa"(HR. Timidzi,
hadis hasan shahih).
Dari
Abdullah bin Masud berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"Barang siap yang tertimpa kefakiran, lalu bergantung kepada manusia, maka
tidaqk akan terpenuhi kebutuhanya, dan barang siapa yang menggantungkannya
kepada Allah semata niscaya Dia akan menyegerakan bangibnya rizki atau
menangguhkannya"
Dari
Tsauban berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Barang
siap yang sanggup menjamin untuk itdak meminta-minta kepada manusia, mak aku
akan menjamin baginya jannah" (HR. Abu dawud dengan isnad shahih). Tsauban
lalu berkata, "maka setelah itu saya tidak pernah meminta kepada manusia
suatu apapun.
Dan
Rasululah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam juga menjadikan salh satu isi para
sahabat agar tidak meminta suatu apapun kepada manusia. Maka para sahabat
komitmen terhadap itu semua, sehingga ada seorang sahabat yang ketika cambuknya
jatuh tidak mau meminta tolong kepada seotangpun untuk mengambilkannya.
Beginilah seharusnya seorang muslim bersikap, kecuali betul-betul dalam kondisi
terpaksa dan memang membutuhkan bantuan adri orang lain, tapi hal ini hanya
untuk perkara duniawi saja.
C. MANFAAT HARTA
Banyak
pada hari ini orang yang kurang bisa mensikapi harta" Sehigga banyak dari
merekan yang tertipu atau terlena karenanya. Ada orang yang menyikapinya terlalu
berlebihan dan ada juga yang terlalau meremehkan dan menghiraukannya, sehingga
kehidupannya terseok-seok dan terlunta lunta.
Padahal
jika memang ia seorang muslim yang benar seharusnyan ia tahu bahwa sebenarnya
harta itu biosa menjadi sarana unutk mendapatkan kemaslahatan dunia dan agama.
Allah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menamkn harta itu suatu kebaikan, yaitu
sebagai pokok kehiodupan. Firman-Nya,
"Dan
janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna kalnya, harta (mereka yang ada dalam
kekuasaan kalian) yang dijadikan Allah sebagai
pokok kehidupan" (AN-Nisa : 5)
Said bin
Musayyab Rahimahullah berkata, "Tidak ad kebaikan pada diri seseorang yang
tidak ingin mengumplkn harta denagn cara yang halal, yang dengan harta itu dia
tiadk membutuhkan dari bantuan orang lain, denagn harta itu ia bisa menjalin
hubungan persauadran dan mengeluarkan sesuai dengan haknya".
Sufyan
berkata, "Harta pada zaman kita sekarang ini merupakan senjata bagi
orang-orang mukmin".
Walhasil,
harta itu ibarat ular yang di dalm tubuhnya ada racun dan ona obat penawar.
Obat penawarnya bermanfat dan sengatannya ada racun. Siap yang tahu manfat dan
sengatannya, memeungkinkan baginya untuk mewaspadai keburukannya, namun ia juga
tahu kebaikannya.
Adapun
manfat harta itu sendiri dibedakan menjadi dua bagian:
-
Manfaat keduniaan
-
Manfaat agama
Tentang
manfaat harta untuk keduniaaan insyaAllah semua orang tahu, dan karenanya
banyak orang yang binasa. Sedangkan manfat harta benda untuk kepentingan agama
ada tiga macam:
- Membelanjakannya untuk keperluan pribadi, baik untuk ibadak
seperti haji atau jihad fisabilillah, atau unutk menunjang dalam
melaksanakn ibadah seperti makanan, pakaian, tempat tingga dan yan lainnya
dari keperluan sehari-hari. Ia hanya mengambilnya untuk hal-hal yang
bermanfat bagi agama. Diluar kesenangan dan tidak lebih dari sekedar
kebutuhan.
- Memberikan harta kepaad orang lain. Adlm hal ini ada empat
macam :
- Shadaqah
- Muruah. Maksudnya adalah memberikan harta yang
sebenarnya sudah berharta dan orang-oranr terpandang sebagai hadiah arau
saat berkunjung, dan hal ini tidak terlepas dari manfaat aganma karena
bisa mendapatkan teman dan saudar.
- Wiqayah. Maksudnya menjaga kehormatan dengan
mengeluarkan harta untuk mnyanggah serangan panya penyairdan membantah
orang-orang bodoh, membungkan mulut mereka dam menghentikasn kejahatan
mereka. Dan hal; ini juga tidak terlpas dari manfaat agama, katrena
Rasullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda , "Sesuatu yang bisa
digunakan untui menjaga kehormatan dirinya, maka itu sama dwengan
shadaqah'(HR. Bagawi, Hakim, al-Karaithi dan ad-Daruquthni)
- Sebagai upah yang dikeluarkan
kepada orang lain karena ia memanfatkan tenaganya.
- Harta yang digunakan seseorang untuk sarana-sarana penunjang
yang mendatangkan kebaikan secara menyeluruh, seperti : memangun masjid
madrasah dan lain sebagainya.
D.
Tercelahkah Harta?
Sebenarnya harta itu sendiri tidak
ada yang bisa dicela, tetapi sebenarnya istilah itu muncul tertuju kepada pemiliknya
sendiri. Hal itu bisa jadi dikarenakan karena terlalu berhasrat untuk
mendapatkanya dan tidak melihat rambu-rambu halal dan haram, atau mungkin ia
mencarinya dengan cara yang dibenarkan oleh syar'I, tapi tidak ia tunaikan
hak-hak harta itu sendiri seperti : infaq, shadaqah dan yang sejenisnya. Bahkan
kalau ia sadar sebenarnya harta benda itu adalah ujian bagi empunya. Apakah ia
bisa tetap bersyukur ataukah bahkan ia malah kufur dan lalai. Allah Ta'ala
berfirman,
"Harta dan anak-ank kalian adalah
ujian." (al-Anfal : 28)
Bilakah Harta Menjadi Ujian ?
Ternyata
ujian bukan hanya sesuatu yang membuat seseoarang sengsara, merana akan tetapi ujian bisa berupa
kenikmatan atau kesenangan pada diri seseorang; dan ini yang banyak manusia
tidak memahaminya. Padahal ujian yang berupa kanikmatan adalah jauh lebih besar
dari pada yang berupa kesulitan, karena orang yang diuji dengan kenikmatan ia
tidak merasa kalau ia sedang diuji. Sedangkan orang yang diuji dengan kesulitan
ia akan betul-betul merasa bahwa itu ujian. Sebagaimana orang yang telah
diberikan oleh Allah Ta'ala dengan harta yang melimpah ruah. Kebanyakan manusia
terlena dengannya. Sehingga akan menjerumuskannya kejurang kebinasaan
sebagaimana yang dialami oleh umat-umat terdahulu.
Rasululloh Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda, "Sesungguhnya setiap umat mengahadapi ujian, dan ujian
umatku adalah harta "(H.R. Tirmidzi no: 2336) hadits shohih. Yang
demikian itu karena mereka terlena dengannya, sehingga ia melupakan bahkan
sampai meniggalkan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan melupakan akhirat.
Ibnu Abdil Bar berkata, Rasulullah
bersabda, "Sesungghnya dinar dan dirham telah membinaskan umat-umat
sebelum kalian, dan sesungghnya keduanya juga akan membinasakan kalian."
Seorang tabiin al-Hasan al-Bashri
Rahimahullah berkata, "Setiap umat memiliki berhala yang disembah, dan
berhala umat ini adalah dinar dan diham. "
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam sangat mengkhawatirkan akan dahsyatnya fitnah ini, beliau bersabda,
" Demi Allah, saya tidak takut kalau kalian akan melakukan kesyirikan
setelahku, tapi yang aku takutkan adalah apabila dibentangkan (diberikan)kepada
kalian dunia lalu berlomba-lomba untuk mendapatkannya, sehingga kalin binasa,
sebagaimana binasanya umat-umat terdahulu." (H.R. Bukhori: 1344,
Muslim: 2296)
Para
salaf sangat takut sekali terhadap ujian harta. Sehingga mereka lebih baik
menghindar darinya.
Yahya bin Muadz pernah berkata, " Dirham
(uang) itu laksana kalajengking, jika engkau tidak bisa mewaspadainya, maka
janganlah mengambilnya. Sebab jika dia sampai menyengatmu, maka racunnya bisa membunuhmu."
Ada yang berkata , "Bagaimana cara mewaspadainya?"
Dia menjawab, "Mengambilnya
dengan cara yang halal an meletakkanya sesuai dengan haknya." Dia juga
berkata, "Dua musibah yang menimpa
hamba karena hartanya saat dia meninggal, yang tak pernah didengar manusia yang
seperti itu.
"Apa dua musibah itu?" ada
yang bertanya
Dia menjawab, "Dia meninggalkan
semua hartanya, dan dia akan
ditanya tentang harta itu."
Bencana dan cobaan harta juga bisa
dibedakan menjadi dua macam:
-
Berkaitan
dengan agama
-
Berkaitan
dengan dunia
Bencana harta yang berkaitan dengan agama diantaranya:
1.
Harta itu
bisa menyeret empunya kepada kedurhakaan. Sesungguhnya seseorang yang memiliki
kemampuan dan kekuasaan, jika menerjunkan diri dalam sesuatu yang diminati
nafsunya, maka ia akan binasa.
2.
Menggerakkan
seseorang untuk mencari kesenangan dalam hal-hal yang mubah, hingga akhirnya
menjadi kebiasaan yang suilit ditinggalkan, sehingga ia terjerembab kejurang
kebinasaan karena ia lalai dengan hartanya.
3.
Seseorang yang
tidak bisa lepas dari harta, sehingga hartanya membuat dirinya lalai mengingat
Allah. Ini merupakan penyakit yang kronis, sebab dasar ibadah adalah mengingat
Allah.
Begitulah keadaan orang-orang yang
memang sudah diperbudak oleh harta, ia akan selalu merasa takut, gelisah,
was-was dan bimbang kalau hartanya hilang darinya.
Adapun obat penawar harta adalah
mengambil sebagian, diantaranya untuk kebutuhan pokok, dan membelajakan sisinya
untuk hal-hal yang baik dan sebagai sarana serta penunjang untuk beribadah
kepada Allah Ta'ala. Selain itu adalah racun yang mematikan.
Wallahua'lam bisshawab
Referensi :
- Qudamah,
Ibnu. Muhktashar Minhajul Qashidin
- al-Maqdisi,
abu Abdillah bin Muflih. Al-Adab Asy-Syar'iyah. (Beirut: Muassasah ar-Risalah). Jilid III
. cet.th 1418 H/ 1996 M.
- al-Maidani,
Abdurrahman Hasan Habanakah. Al-Akhlaq Asy-Syar'iyah Wa Asasuha.
Damsyiq: Darul Qalam. Jilid II.cet. IV th. 1418 H/1996 M
- al-Asqalani,
Ahmad bin Ali bin Hajar, Fathul Bari Syarhu Shahih Bukhari, (Beirut: Dar Fikr)
jlid III. cet.I th. 1420 H/1997 M
- An-Nawaai,
Yahya bin Syaraf, Shahih Muslim Bi Syarhi an-Nawawi, (Beirut : Dar
al-Kutub al-ilmiyyah) jilid IX. Cet.I th.1421 H/200 M.
- al-Mubarakfuri,
Abu al-'Ula Muhammad Abdurrahmanbin Abdurrahim. Tuhfatu al-Ahwadzi bi
Syarhi Jami' al-Tirmidzi. (Beirut Dar al-Fikr ) jilid IX cet. Th 1415
H/1995 M.