6. CERDAS DALAM HAL DUNIA BODOH TENTANG AKHIRAT

6. CERDAS DALAM HAL DUNIA BODOH TENTANG AKHIRAT



الحَمْدُ لِلَّهِ الَذِيْ فَتَحَ لِعِبَادِهِ طَرِيْقَ الْفَلاَحِ وَأَرْشَدَهُمْ إِلَى مَا فِيْهِ الْخَيْرِ وَ الْبِرِّ وَ التُقَى وَأَمَرَهُمْ بِالتَنَاصُحِ عَلَى الْحَقِّ وَجَعَلَ أَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ لِيَتَحَقَّقَ لَهُمُ الْفَوْزَ وَالنَجَاةَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ وَالصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَ إِمَامِ المُهْتَدِيْنَ وَ قَائِدِ المُجَاهِدِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ،،
Jama’ah Shalat Tarawih yang dimulyakan Allah Ta’ala
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Ta’ala, yang telah menjadikan kita seorang mukmin yang senantiasa berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi junjungan kita Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam.
Jama’ah Shalat Tarawih yang dimulyakan Allah Ta’ala
Banyak orang yang merasakan susahnya hidup mencari rizki. “Hanya untuk mencari kerja yang dapat memberikan penghasilan rutin setiap bulan saja sulit, apalagi pekerjaan yang memberika gaji melimpah?” Perasaan inilah yang kemudian menjadikan para orang tua berlomba untuk memberikan perbekalan ilmu-ilmu dunia pada anak-anak mereka. Tujuannya agar anak mereka mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menopang kehidupan mereka.
Tak sedikit di antara mereka yang mencarikan sekolah favorit untuk sang buah hati. Tak hanya itu, diikutkanlah kursus-kursus dan les prifat agar nilainya tidak jemblok. Prifat computer, bahasa inggris, matematika dan yang lainnya. Bahkan tidak ada waktu bagi anak kecuali belajar dan belajar. Pagi sekolah, siang sampai sore les dan prifat, malamnya belajar.
Sisi lain, banyak orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan agama anak-anak mereka. Tidak ada dorongan orang tua untuk belajar ilmu-ilmu islam.  Bahkan tidak sedikit orang tua yang tenang-tenang saja saat anak-anak mereka tidak dapat membaca al qur’an. Fenomena ini terjadi hampir pada kebanyakan masyarakat kita hari ini.
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Tarawih yang berbahagia…
Merenungi sebuah Ayat
Semangatnya orang-orang hari ini untuk mengejar dunia dan jalan-jalan untuk mendapatkannya serta lalainya mereka pada akhirat telah disebutkan Allah Ta’ala dalam surat Ar Ruum ayat 7:
ytbqßJn=ôètƒ #\Îg»sß z`ÏiB Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# öNèdur Ç`tã ÍotÅzFy$# ö/ãf tbqè=Ïÿ»xî ÇÐÈ  
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [ Ar Ruum : 7 ].
Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thabari, 18/462)
Penulis Al Jalalain menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhahir (yang nampak saja), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian,  pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)
Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an.
Sidang shalat Tarawih yang Rahmati Allah Ta’ala
Kenapa Dunia diburu Akhirat dilupa ?
Ada sebuah riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dari Arfajah Ats Tsaqafi yang bercerita : “Saya pernah meminta kepada Ibnu Mas’ud untuk membacakan sabbihisma rabbikal a’la. Tatkala beliau samapi pada ayat bal tu’tsirunal hayatad dunya  [Mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia] beliau menghentikan bacaannya dan mengarahkan pandangannya kepada para sahabat seraya berkata : ‘Mengapa kebanyakan kita lebih mengutamakan dunia dibanding akhirat?,’ orang-orang terdiam. Lalu beliau menlanjutkan : “[Kebanyakan] kita mengutamakan dunia karena dunia di depan mata. Kita melihat perhiasanya, wanita yang ada di dalamnya, makanan dan minumannya. Sedangkan akhirat ditangguhkan untuk kita. Lalu kebanyakan kita memilih yang segera dibandingkan pahala akhirat yang ditangguhkan.
Mereka lebih senang memburu ilmu-ilmu yang menjadikan kesuksesan di dunia. Tahu persis bagaimana jalan menuju kenikmatan dunia. Sehingga banyak manusia yang berburu title dan kesarjanaan untuk memudahkan mencari pekerjaan. Sementara banyak manusia yang lalai untuk mempelajari ilmu-ilmu agama di majlis-majlis taklim dan buku-buku islam.
Orang yang senang memburu dunia tidak akan menyesal jika pahala berlalu darinya. Sebaliknya, jika sebuah kesempatan untuk mendapat keduniaan lepas darinya, ia akan menyesal dengan penyesalan yang mendalam.
Jika memang kita cinta akhirat, pastilah menyesal jika kita bodoh dalam masalah-masalah aqidah, ibadah seperti shalat, puasa dan amalan-amalan lain. Karena dengan kebodohan tersebut akan menjadikan luputnya berbagai amal shalih pada kita. Padahal amal seseorang diterima salah satu syaratnya adalah sesuai dengan tuntunan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
Akhirat Lebih Utama
Dunia adalah sesuatu yang fana dan tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal dan abadi. Tetapi kebanyakan manusia memilih dunia dengan mengorbankan akhirat. Mereka cari dunia dengan sekuat tenaga, padahal ia tidak akan dinikmati selamanya. Sedangkan akhirat yang jelas akan ditemui dan menjadi tempat tinggalnya yang abadi, tidak pernah mereka pikirkan dan mereka siapkan perbekalannya.
Ada gambaran yang sangat indah dari seorang ulama tabi’in Fudhail bin ‘Iyadh tentang hakekat dunia. Semoga memberi semangat kita untuk memburu akhirat dan jalan-jalan menuju ke sana : andaikan dunia itu sebagaimana emas yang dipinjamkan sekejap saja, sedangkan akhirat itu tembikar yang dimiliki selamanya, orang berakal lebih memilih tembikar yang dimiliki selamanya dibandingkan emas yang dimiliki sekejab saja. Apalagi ternyata dunia itu lebih rendah dibandingkan tembikar yang sebentar lagi sirna, sedangkan akhirat lebih berharga dibandingkan emas yang akan dimiliki selamanya. Bagaimana manusia bisa memilih emas yang nyaris pecah dari pada tembikar yang kekal selamanya?.
Itulah gambaran dunia dibandingkan akhirat. Betapa mulia dan agungnya akhirat sangat jauh jika dibandingkan dunia. Tetapi kenapa masih banyak orang yang begitu gigih mencari jalan-jalan kebahagiaan dunia, seakan tidak ada capek dan lelahnya. Sementara badan terasa lemas, pikiran menjadi tumpul serta keingin menjadi lemah jika sudah berhubungan dengan akhirat. Kita memohon pada Allah Ta’ala untuk meringankan kita dalam urusan akhirat, dan memudahkan kita dalam mempelajari berbagai ilmu yang menghantarkan kita pada kebahagiaan di akhirat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
 [ Nur Kholis].
Pages (11)1234567 Next