10. INDAHNYA SHADAQAH

10. INDAHNYA SHADAQAH



اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ، اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Jama’ah Shalat Tarawih yang Berbahagia.
Sebelumnya marilah kita mengucapkan alhamdulillah puji syukur pada Allah Ta’ala yang telah memberikan pada kita berbagai nikmatnya, sehingga kita dapat melaksanakan shalat tarawih dengan berjama’ah InsyaAllah.
Shalawat serta salam tercurahkan pada Nabi junjungan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Manusia memang cenderung untuk cintai harta. Apalagi saat ekonomi kapitalis telah mencengkram dunia seperti hari ini, seakan semuanya dapat diperoleh dengan harta. Ingin kendaraan mewah, rumah megah, istri cantik, dan bahkan fasilitas yang elit di kendaraan umum serta rumah sakit dapat diperoleh dengan duit. Begitulah, semakin kaya, semakin tergantung dengan harta, maka akan semakin cinta terhadapnya dan bakhil untuk berbagi. Hal ini persis yang disampaikan Allah Ta’ala dalam Al Qur'an ;
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“Dan sesungguhnya dia [ manusia ] sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” [ Al 'Adiyat : 8 ].
Begitulah manusia, selalu ingin menumpuk harta sampai ia terlentang dalam kuburnya. Ia seakan ingin hidup selamanya dan tak ingin mati. Bahkan ia tetap seperti anak muda walau telah tua renta jika berurusan dengan harta. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ;
قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ طُولُ الْحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ
“Hati orang tua itu masih tetap muda dalam kecintaannya pada dua perkara; umur yang panjang dan cinta harta”. [ HR. Muslim ]
Dari sinilah Islam mengatur hati manusia agar tidak berlebihan dalam kecintaan terhadap harta. Islam meredam keinginan untuk menumpuk harta dengan infaq, shadaqah, dan zakat. Islam juga melarang kita dari sifat tamak, kikir, serakah dan juga egois. Semua itu diarahkan oleh Islam agar manusia mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena kekikiran, ketamakan dan egois adalah kesengsaraan di dunia sebelum nanti sengsara di akhirat.
Kenapa Harus Infaq?
Berinfaq di jalan Allah Ta'ala memiliki faidah yang amat banyak. Ia meliputi berbagai faidah dan manfaat di dunia dan akhirat. Diantara faidah tersebut adalah ;

Pertama : Allah akan Memberkahi Harta Orang yang Mau Berinfaq.
Keberkahan disini adalah berkembang dan bermanfaatnya harta tersebut serta dijauhkannya dari berbagai permasalahan, sehingga pemilik harta tersebut hidup dalam ketenangan jiwa. Orang yang mau menyedekahkan hartanya dengan infaq atau zakat, Allah Ta’ala pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Bahkan harta yang ia dapat lebih banyak dari harta yang ia keluarkan. Ini adalah janji dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadis ;
 “Siapa yang bersedekah dengan sebiji kurma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik, maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.” [ Muttafaq ’alaih ].
Dari sini jelas, jika orang ingin hartanya berkembang, maka bersedekahlah. Dan jika anda ingin menjadi kaya di dunia sebelum kaya di akhirat, maka bersedekahlah! Karena harta yang anda titipkan pada Allah Ta’ala akan berkembang dan di kembalikan dengan berlipat ganda.

Kedua : Sebagai Obat bagi berbagai Macam Penyakit Baik penyakit Jasmani maupun Rohani.
Mungkin kita sering mengeluhkan tentang penyakit yang tak kunjung sembuh. Sudah beberapa dokter spesialis dan juga rumah sakit menangani penyakit kita. Bahkan jutaan rupiah telah melayang untuk biaya pengobatan dan perawatan. Tetapi penyakit tersebut tak kunjung sembuh dan bahkan tambah parah.
Jika kita mengalami hal demikian, maka cobalah obati dengan sedekah. Karena sedekah dapat menjadi obat baginya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)

Ma’asyiral Muslimin yang dimulyakan Allah Ta’ala
Ketiga : Membersihkan Jiwa Orang Kaya dari Kekikiran dan Kebakhilan.
Sudah dimaklumi bahwa manusia cinta pada harta. Tetapi jika ia mampu menundukkan nafsunya, jadilah ia orang yang dermawan serta merasa tentaram dengan bershadaqah.
Adapun jika ia mengacuhkan orang fakir dan orang yang membutuhkan bantuan, berarti ia sedang mengokohkan kekikiran dalam jiwanya. Kekikiran ini jika telah membesar dan kuat dalam jiwa seseorang akan menyebabkan beratnya dalam melakukan kebaikan kepada sesama manusia. Sehingga banyak yang menarik pelakunya untuk melakukan berbagai dosa dan maksiat.

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
“Jauhilah oleh kalian semua kedhaliman, karena kedhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah pada kekikiran, karena kekikiran telah mencelakakan orang-orang sebelum kalian. Kekikiran membawa mereka mengalirkan darah mereka dan menghalalkan batasan-batasan haram mereka.” [ HR. Muslim ].
Sungguh menginfakkan harta dan menshadaqahkannya dengan jalan yang wajib dan sunnah akan membersihkan pelakunya dari kekikiran dan ketamakan. Bahkan dapat mensucikan jiwa dan harta secara bersama-sama.

Keempat : Mendapat Naungan Allah Ta'ala di Padang Mahsyar.
Ketika di padang Mahsyar setiap orang menunggu giliran dirinya diadili serta timbangan kebaikan dan keburukannya diperhitungkan, maka semua orang akan merasakan panasnya matahari di atas kepala masing-masing. Namun orang-orang yang bersedekah akan memperoleh naungan dari matahari karena sedekahnya hingga hukuman ditetapkan di antara manusia.
كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ أَوْ قَالَ : حَتَّى يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ قَالَ يَزِيدُ : وَكَانَ أَبُو الْخَيْرِ ، لاَ يَأْتِي عَلَيْهِ يَوْمٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ فِيهِ وَلَوْ بِكَعْكَةٍ أَوْ بَصَلَةٍ
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari Kiamat) hingga diputuskan di antara manusia atau ia berkata: “Ditetapkan hukuman di antara manusia.” Yazid berkata: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.” (HR Al-Baihaqi – Al-Hakim – Ibnu Khuzaimah)
Dan ketahuilah saudaraku, jangan pernah memandang remeh pemberian yang engkau keluarkan. Sebab bukan banyaknya sedekah yang menyebabkan berbagai kenikmatan dunia dan akhirat yang akan kita raih, melainkan keikhlasan yang menyebabkannya. Maka, jika anda orang kaya jangan pelit untuk mengeluarkan kepada yang berhak. Tetapi jika anda termasuk orang yang miskin, jangan remehkan walau dengan senyuman pada saudaramu. Semoga kita dimudahkan dalam berinfaq, dan dijauhkan dari kekikiran.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.






Pages (11)1234567 Next