20. KENAPA DO’A TAK KUNJUNG TERKABUL
Dan
Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". [ QS.Al Mukmin : 60 ].
Ayat di
atas sangat jelas, bahwa Alloh Ta’ala yang Maha Mendengar akan mengabulkan
Do`a hamba-Nya. Setiap hamba yang berdo’a untuk kebahagiaan dunia maupun
akhirat pasti Allah kabulkan. Walau mungkin pengabulan do’a tersebut tidak mesti
dengan segera terlaksananya apa yang ia minta. Tetapi dengan ditundanya besuk
diakhirat, atau dijauhkan dari musibah dan lain sebagainya. Tetapi juga bisa
jadi memang do’a kita tidak terkabul oleh Allah karena kemaksiatan yang kita
lakukan.
Namun
dalam kenyataannya, masih sering kita mendengar keluhan dari banyak saudara
kita, “setiap hari aku menengadahkan tangan memohan kepada Alloh Ta’ala,
Tetapi apa yang dimintanya tidak kunjung di jawab”. Timbul pertanyaan “Mengapa
permohonan kita itu masih belum di kabulkan oleh Alloh Ta’ala ?”.
Cara Allah mengabulkan do’a
Yang sangat penting dipahami bahwa,
terdapat 1001 macam bentuk dan cara pengabulan doa. Sementara kebanyakan orang
hanya memahami satu saja bentuk dan cara pengabulan doa. Yakni bahwa doa
seseorang dikabulkan persis sesuai permintaan, tepat diwaktu (timing) dan
tempat yang “didiktekan” dalam doanya. Sehingga ketika doanya tidak terkabul
persis seperti yang diminta, biasanya ia langsung menganggap dan mengklaim
serta bersuudzan bahwa, doanya tidak didengar oleh Allah dan tidak dikabulkan.
Padahal sebenarnya dikabulkan, hanya saja ia tidak memahami, tidak mengetahui
dan tidak menyadarinya. Karena dikabulkan dengan cara lain, yang menurut Allah
Yang Maha Mengetahui, cara lain itu lebih maslahat baginya.
Artinya ketika doa serasa tidak terkabul, ada dua kemungkinannya: Pertama,
memang benar-benar tidak dikabulkan yang berarti tertolak, dan jelas karena ada
syarat yang tidak terpenuhi atau ada faktor yang menghalangi, seperti telah
disebutkan dimuka. Kedua, sebenarnya dikabulkan, namun dalam bentuk atau dengan
cara lain, yang tidak dipahami atau tidak disadari oleh yang bersangkutan.
Dan secara garis besar, ada tiga bentuk
pengkabulan dan penerimaan doa seorang pendoa: Pertama, dikabulkan secara umum
sesuai dengan permintaan, meski waktu, tempat dan detail-detail lainnya bisa
saja berbeda-beda. Kedua, dikabulkan tapi tidak sesuai dengan permohonan,
melainkan diganti dengan yang lebih baik, yakni berupa dihindarkan dari
keburukan atau marabahaya yang nilainya setara dengan yang diminta. Ketiga,
diterima tapi tidak diberikan di dunia, melainkan disimpan dan dicatat berupa
pahala yang setara dengan nilai doa dan permohonan.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
bersabda ;
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا
قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ
تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ
وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا”، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ”
Dari Abu Sa’id berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada
seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau
pemutusan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan;
disegerakan pengabulan doanya (di dunia ini), atau disimpan pahalanya untuknya
untuk (diberikan) di akhirat, atau ia dijauhkan dari keburukan yang setara
nilainya”. Para sahabat berkata: “Jika demikian kita perbanyak (berdoa yang
banyak) saja”, beliau bersabda: “Allah memiliki yang lebih banyak (sebagai
balasan dan pengkabulan” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Ditunda bukan berarti ditolak
Karena ketidaktahuan itu, sering sekali
kita meminta apa-apa yang kita sangka baik atau lebih baik, maslahat atau lebih
maslahat, baik dalam hal jenis dan macamnya, atau caranya, atau timing-nya,
atau tempatnya, dan lain-lain. Padahal sebenarnya, dalam ilmu Allah Yang Maha
Tahu tidaklah demikian. Maka Allah-pun, saat berkehendak mengabulkan doa kita,
mengabulkannya sambil atau setelah “meralat” doa kita menjadi yang benar-benar
lebih baik dan lebih maslahat bagi kita. Misalnya seseorang berdoa minta
jodoh A, tapi “diralat” dengan diberi jodoh B atau C yang hakekatnya dalam ilmu
Allah lebih baik dan lebih maslahat baginya. Atau suami-istri berdoa minta anak
perempuan, tapi “diralat” dengan diberi anak laki-laki, karena Allah Maha Tahu,
mereka lebih mampu mendidik anak laki-laki, atau sebaliknya. Atau seorang
pedagang berdoa meminta untung sekian hari ini, tapi “diralat” dengan diberi
kurang dari permintaannya itu, karena jika diberi persis sesuai permintaannya
justru lebih madharat baginya. Dan begitu seterusnya.
Lalu yang juga paling sering terjadi,
“ralat” itu tertuju pada waktu dan “timing” pengkabulan doa. Dimana seseorang
berdoa meminta sesuatu hari ini misalnya, tapi “diralat” dan diberi besok, atau
minta pekan ini, tapi “diralat” dan dikabulkan pekan depan atau pekan depannya
lagi, atau meminta pada bulan atau tahun ini, namun “diralat” dan baru
dikabulkan pada beberapa bulan atau beberapa tahun berikutnya. Dan bahkan ada
yang doanya “diralat” “begitu ekstrem” sehingga baru dikabulkan justru setelah
yang bersangkutan tiada, sehingga yang menerima dan merasakan pengkabulan doa
tersebut adalah anak cucu yang bersangkutan. Mungkin disini penting kita
mengambil ibrah dari pengkabulan doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam yang baru
terjadi setelah berabad-abad berlalu dari saat doa dipanjatkan. Yakni doa
beliau seperti dalam QS. Al-Baqarah: 129,
Ya
Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Do’a tersebut baru dikabulkan oleh Allah
dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi
dan rasul terakhir, seperti disebutkan para ulama tafsir.
Nah adanya “ralat-ralat” inilah yang biasanya menjadi salah satu faktor
penyebab ketidaksabaran, suudzan dan sikap mutung (ngambek) dari banyak pendoa,
serta sekaligus menjadi salah satu penghalang utama terkabulnya doa-doa
berikutnya!.
Karena kondisi dan situasi saat ini, sangat
boleh jadi kebanyakan doa kita justru “diralat” dan “dialihkan” ke bentuk dan
jenis kedua dari pengkabulan doa yang disebutkan dalam hadits ‘Ubadah bin
Ash-Shamit dan Abu Sa’id Al-Khudri diatas. Yakni banyak dan beragamnya potensi
keburukan dan marabahaya yang mengancam setiap kita setiap saat di zaman
sekarang, sangat boleh jadi telah menjadi faktor penyebab utama “peralatan” dan
“pengalihan” itu. Dimana doa-doa kita dengan beragam tujuan dan kepentingan,
meskipun memenuhi syarat, “terpaksa” tidak dikabulkan sesuai tujuan dan kepentingannya,
melainkan “dipakai” untuk menghindarkan dan menyelamatkan kita dari berbagai
potensi keburukan dan marabahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu setiap detik.
Khususnya bagi kita yang jarang berdoa dengan doa-doa perlindungan diri. Namun
kebanyakan kita tidak memahami dan tidak menyadari hal itu.
Dan tentu saja ujian penerimaan dan
pengkabulan doa terberat adalah bentuk ketiga seperti dalam hadits diatas.
Yakni, karena hikmah dan ke-Maha Tahu-an Allah, doa-doa kita tidak dikabulkan
dengan bentuk pengkabulan apapun di dunia, melainkan disimpan dan dicatat
sebagai pahala amal yang setara dengan nilai doa-doa itu, yang baru akan
diberikan di akhirat, untuk memperberat timbangan amal kita nanti. Memang ini
berat sekali di dunia, tapi nanti mungkin setiap kita membayangkan dan
menginginkan andai seluruh doa yang dipanjatkannya di dunia tidak ada yang
dikabulkan di dunia, melainkan ditambahkan sebagai pemberat timbangan amal
shalih yang paling ia butuhkan saat itu. Maka janganlah bosan dalam berdo’a
karena tidaklah ada istilah do’a yang tidak dikabulkan. Bisa jadi pengkabulan
do’a tersebut di segerakan di dunia, atau ditunda untuk kebahagiaan kita di
akhirat. Wallahu a’lam bis shawab. [ Amru ].