Ikhlash Dalam Beramal

Ikhlash Dalam Beramal


KISAH TELADAN DARI ULAMA’ SALAF

Dari Mundzir dari Rabi’ bin Khutsaim diriwayatkan bahwa ia berkata, “Segala sesuatu yang dilakukan tidak untuk mencari wajah (dan keridhaan) Allah pasti akan sia-sia.”
Dari Abu Hamzah Ats Tsumali diriwayatkan bahwa ia berkata, “Dahulu Ali bin Al Husein biasa memanggul karung (makanan) setiap malam untuk disedekahkan. Dan beliau pernah berkata, “
إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِيْئُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ.
“Sesungguhnya sedekah yang dilakukan secara diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah azza wa jalla.”
Dari Amru bin Tsabit diriwayatkan bahwa ia berkata, tatkala Ali bin Al Husein meninggal dunia dan orang-orang memandikan jenazahnya, tiba-tiba mereka melihat bekas-bekas menghitam dipunggungnya. Mereka lantas bertanya; “apa ini???” sebagian mereka menjawab, beliau biasa memanggul karung gandum diwaktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.”
Dari Ibnu Aisyah diriwayatkan bahwa ia berkata, “ayahku pernah berkata, aku pernah mendengar penduduk Madinah mengatakan, Kami terus menerus mendapatkan sedekah misterius hingga meninggalnya Ali bin Husein.”
Abu Ja’far Al Hadzdzaa’ berkata, “Aku pernah mendengar Ibnu Uyainah berkata,
إِذَا وَفَقَتْ السَرِيْرَةُ الْعَلاَنِيَةَ فَذَلِكَ الْعَدْلُ، وَإِذَا كَانَتِ السَّرِيْرَةُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَلاَنِيَةِ فَذَلِكَ الْفَضْلُ وَإِذَا كَانَتِ الْعَلاَنِيَةُ أَفْضَلُ مِنَ السَّرِيْرَةُ فَذَلِكَ الْجُوْرُ.
Artinya: “Jika amalan hati bersesuaian dengan amalan dzahir itulah keadilan, apabila amalan hati lebih baik dari amalan dzahir itulah keutamaan, dan apabila perbutan dzahir itu lebih bagus dari amalan hati itulah keculasan.”
ikhlas merupakan amalan hati, akan tetapi dampaknya akan nampak dalam perbuatan dlahir. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al Umdah perihal tentang ‘alamatus sidqun niyah” atau tanda-tanda benarnya niat adalah:
أَلاَّّ يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ عَلَى الطَّاعَةِ بِمَدْحِ النَّاسِ لَكَ أَوْ بِذَمِّهِمْ.
وَأَلاَّ يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ بِالْمَنْعِ أَوْ الْعَطَاءِ.
وَأَلاَّ يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ وَإِنْ تَفَرَّقَ عَنْكَ السَائِرُوْنَ مَعَكَ  عَلَى دَرْبِ الْجِهَادِ.
وَأَلَّا تَسْتَوْحَشُ مِنْ قِلَّةِ السَّالِكِيْنَ.
 “Hendaknya keteguhan kita diatas ketaatan tidak berubah disebabkan karena pujian ataupun celaan manusia, tidak berubah karena mendapatkan pemberian atau tidak, tidak berubah meskipun orang-orang yang berjalan diatas jalan jihad ini meninggalkan kita, tidak gentar meskipun orang-orang yang berjalan diatas jalan jihad ini adalah sedikit.”


perkataan Salim bin Abdullah rahimahullah kepada ‘Umar bin Abdul Aziz :
اِعْلَمْ أَنَّ عَوْنَ اللهِ تَعَالَى لِلْعَبْدِ عَلَى قَدْرِ النِّيَةِ، فَمِنْ تَمَّتْ نِيَتُهُ تَمَّ عَوْنِ اللهِ لَهُ، وَإِنْ نَقَصَتْ نَقَصَ بِقَدَرِهِ. (إحياء علوم الدين)
Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah terhadap hambanya berdasarkan niat, maka barang siapa sempurna niatnya sempurnalah pertolongan Allah kepadanya dan jika berkurang


PENGERTIAN IKHLASH

§  Secara bahasa:

إِفْرَادُ الْمَعْمُوْلِ لَهُ اْلقَصْدِ                
“Memurnikan tujuan.”
Atau
تَخْلِيْصُ الْغَرْضِ الْبَاعِثِ عَلَى الْعَمَلِ مِنَ الْمُشَارَكَةِ
“Memurnikan tujuan dari pendorong suatu amal dari persekutuan.”[1]

§  Secara syar’ie:

تَصْفِيَةُ الْعَمَلِ مَعَ صَالِحِ النِّيَةِ مِنْ شَوَائِبِ الشِّرْكِ
Membersihkan segala amal dengan meluruskan niat dari noda-noda syirik
قَالَ أَبُوْ عُثْمَانِ: اَلإِخْلاَصُ نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظْرِ إِلَى الْخَالِقِ فَقَطْ، وَهِذِهِ إِشَارَةٌ إِلَى آفَةِ الرِّيَاءِ فَقَطْ.
Abu Usman berkata, “Ikhlas adalah melupakan pandangan (perhatian makhluk dengan senantiasa melihat kepada sang khaliq semata, ini menunjukkan pada hilangnya riya’ semata.”

DALILNYA

1. Al Qur’an.

Firman Allah dalam surat Al Bayinah:5 juga
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

2. As sunnah.

عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Artinya; “Hanya sanya segala amalan itu tergantung dengan niatnya dan bagi setiap seseorang adalah apa yang dia niatkan. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia cari atau karena wanita yang akan dia nikahi maka hijrahnya menuju apa yang niatkan.”(H.R. Bukhari)

3. Perkataan ulama’.

Ayub As Sakhtiyani rahimahullah:
تَخْلِيْصُ النِّيَاتِ عَلَى الْعُمَّالِ أَشَدَّ عَلَيْهِمْ مِنْ جَمِيْعِ اْلأَعْمَالِ.
"Menghususkan niat kepada yang ditujukan itu lebih berat daripada semua amalan."
Sufyan At Sauri rahimahullah:
كَانُوْا يَتَعَلَّمُوْنَ النِّيَةَ لِلْعَمَلِ كَمَا تَتَعَلُمُوْنَ الْعَمَلَ.
"Mereka mempelajari niat untuk beramal sebagaimana kalian mempelajari amal itu sendiri".
berkata sebagian ulama”:
اُطْلُبُ النِّيَةَ لِلْعَمَلِ قَبْلَ الْعَمَلِ، وَمَا دُمْتَ تَنْوِيْ الْخَيْرَ فَأَنْتَ بِخَيْرٍ.
"Belajarlah niat untuk beramal sebelum kalian itu beramal, kamu senantiasa berniat untuk kebaikan maka kamu senantiasa dalam kebaikan."
Ibnul Mubarak rahimahullah:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَةِ وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تُصَغِّيْرُهُ النِّيَةِ
“Berapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan besar menjadi kecil disebabkan niat.”

IKHLAS MERUPAKAN SYARAT DITERIMANYA AMAL.

Allah berfirman dalam surat Al Kahfi:110
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

KEUTAMAAN IKHLAS.

Sesungguhnya tidak ada yang dapat menghalangi pemberian Allah dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang Allah menghalanginya.

1. Allah akan menerima amalan tersebut dan memberikan pahala bagi pelakunya.

Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal, ikhlas merupakan salah satu dari amalan hati yang tidak mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah: 225
وَلَكِنْ يُؤَخِذْكُمْ بِمَاكَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ
Artinya: “Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu.”
Imam At Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Aisyah radliyAllahu anha ia berkata, “Aku bertanya Rasulullah  shalAllahu ‘alaihi wasalam tentang ayat ini
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ  .
Aku berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri? Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasalam menjawab, Bukan wahai anaknya As Shidiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, shadaqah. Mereka takut amalan-amalan mereka tidak diterima, mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapatkan kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”

2.mendapat petunjuk dalam beramal dan lurus.

وَمِنْ ثَوَابِ الإِخْلاَصِ اَلتَّوْفِيْقِ فِيْ الْعَمَلِ وَالسَّدَادِ.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al ankabut: 69
 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Abu Hamid al Ghazali rahimahullah berkata;
وَكَتَبَ سَالمِ بنِ عَبْدِ اللهِ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدُ الْعَزِيْزِ: اِعْلَمْ أَنَّ عَوْنَ اللهِ تَعَالَى لِلْعَبْدِ عَلَى قَدْرِ النِّيَةِ، فَمَنْ تَمَّتْ نِيَتُهُ تَمَّ عَوْنَ اللهِ لَهُ، وَإِنْ نَقَصَتْ نَقَصَ بِقَدَرِهِ. (إحياء علوم الدين)
Artinya: Salim bin Abdullah telah mengirim surat kepada Umar bin Abdul aziz yang isisnya, “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah terhadap hambanya berdasarkan niat, maka barang siapa sempurna niatnya sempurnalah pertolongan Allah kepadanya dan jika berkurang berkuranglah pertolongan tersebut berdasarkan kurangnya niat itu.

3.terjaga dan terlindungi pelakunya dari gangguan syetan.

وَمِِنْ ثَوَابِ الإِخْلاَصِ أَنْ يَخْفَظَ اللهُ صَاحِبَهُ مِنْ غِوَايَةِ الشَّيْطَانِ.
Allah berfirman menceritakan tentang iblis,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)
Artinya: Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Q.S. Shaad:82-83)
Setan akan putus asa terhadap hamba-hamba Allah yang senantiasa mampu mengikhlaskan amalan-amalannya hanya untuk mencari keridlaan Allah semata.

Rasulullah  shalAllahu ‘alaihi wasalam bersabda;
مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللهِ بِسُخْطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللهُ مَؤُنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسُخْطِ اللهِ، وَكَلَّهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ
Artinya: “Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia Allah akan mencukupkannya dari pertolongan manusia, sedang orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, Allah akan mewakilkannya kepada manusia.”
Umar bin khatab radliyAllahu anhu berkata:
فَمَنْ خَلَصَتْ نِيَتُهُ فِيْ الْحَقِّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِهِ كَفَاهُ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ تَزَيَّنَ بِمَا لَيْسَ فِيْهِ شَانَهُ اللهُ.
Artinya: Barang siapa membersihkan hatinya dalam kebenaran meskipun atas dirinya sendiri maka Allah akan mencukupkan antara dia dengan manusia, dan barang siapa berhias dengan selain itu maka Allah akan dibiarkan oleh Allah.”
Ibnul Qayyim mengomentari perkataan umar tersebut, “Ini merupakan pecahan dari kalamun nubuwah.






[1] Al Jami’ Fie thalabil ilmi syarief Juz 3 hal 36
Pages (11)1234567 Next